TUGAS 3
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap masyarakat
senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam
masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal
tertentu akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari
hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan materil
daripada kehormatan, misalnya, mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan
materil akan menduduki kedudukan yang lebih tinggi apabila di bandingkan dengan
pihak-pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat, yang
merupakan pembedaan posisi seseorang atau sesuatu kelompok dalam kedudukan yang
berbeda-beda secara vertical.
Bahkan pada zaman kuno
dahulu, filsuf aristoteles (yunani) mengatakan di dalam Negara terdapat 3
unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, melarat, dan berada ditengah-tengahnya.
Ucapan demikian paling tidak membuktikan bahwa dijaman itu dan sebelumnya,
orang telah mengakui adanya lapisan masyaraka yang mempunyai kedudukan
betingkat-tingkat dari bawah ke atas.
1.2.
Pokok Bahasan
1. Pelapisan
social
2. Kesamaan
derajat
3. Elite
dan Massa
BAB
2
PEMBAHASAN
1.
Pelapisan social
1.1.
Pengertian
Masyarakat terbentuk
dari individu-individu. Dan individu-individu yang berlatar belakang tentu akan
membentuk suatu masyarakat yang heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok
social. Dengan adanya yang seperti ini maka terbentuk yang namanya pelapisan
masyarakat atau terbentuk masyarakat yang berstrata.
Masyarakat adalah satu
kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan yang sudah teratur dan stabil. Maka
dengan sendirinya masyarakat merupakan kesatuan yang dalam pembentukannya
mempunyai gejala yang sama. Individu dan masyarakat adalah komplementer, dapat
kita lihat dari kenyataan, bahwa:
a)
Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi
pembentukkan pribadinya.
b)
Individu mempengaruhi masyarakat dan
bahkan dapat menyebabkan perubahanbesar pengaruhnya.
Sedangkan pelapisan
social atau stratifikasi social menurut istilah dari kata STRATA atau STRATUM
yang berarti LAPISAN. Dapat diartikan sejumlah individu yang mempunyai
kedudukan / status yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan dalam
suatu lapisan atau stratum.
Stratifikasi social
juga di artikan sebagai dimensi fertikal dari struktur social masyarakat
(melihat perbedaan masyarakat berdasarkan pelapisan yang ada). Stratifikasi
social juga adalah sebagai gejala yang universal artinya dalam setiap
masyarakat bagaimanapun juga pasti akan didapatkan pelapisan social tersebut.
Menurut Pitirim A.
Sorokin, pelapisan masyarakat atau stratifikasi sosial adalah perbedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat
(hierarchis).
Menurut Theodorson dkk dalam Dictionary
of Sociology, adalah: pelapisan masyarakat berarti jenjang status dan peranan
yang relative permanan yang terdapat di dalam system social (dari kelompok
kecil sampai ke masyarakat) di dalam hal perbedaan hak, pengaruh dan kekuasaan.
Mengapa terjadi stratifikasi social ?
Menurut SOERJONO
SOEKAMTO(1981:133).
Selama dalam suatu masyarakat ada
sesuatu yang di hargai dan setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai,
maka barang sesuatu itu akan menjadi bibit yang dapat menimbulkan adanya system
yang berlapis-berlapis yang ada dalam masyarakat itu. (barang sesuatu yang di
hargai masyarakat itu adalah uang, benda-benda bernilai ekonomis seperti:
tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan)
Menurut PAUL B.
HORTON & CHESTER L. HUNT(1989: 7-12).
Terjadinya stratifikasi social dalam
masyarakat dikarenakan sesuatu yang dihargai dalam masyarakat jumlahnya
terbatas, akibatnya distribusi di dalam masyarakat tidak merata. Mereka yang
memperoleh menduduki kelas atas dan mereka yang tidak memperoleh menduduki
kelas bawah
A. Pelapisan
social ciri tetap kelompok social
Pembagian dan pemberian
kedudukan yang berhubungan dengan jenis kelamin nampaknya menjadi dasar dari
seluruh system seluruh masyarakat kuno. Seluruh masyarakat memberikan sikap dan
kegiatan yang berbeda kepada kaum laki-laki dan perempuan. Tetapi hal ini
hanyalah semata-mata ditentukan oleh system kebudayaan itu sendiri. Contohnya
seperti kedudukan laki-laki di minangkabau dengan laki-laki di jawa. Di jawa
kekuasaan keluarga ada ditangan ayah sedangkan di minangkabau dipegang oleh
ibu. Itu karena kebudayaan si sana bebeda dengan di jawa. Di sana para
wanitanya yang melamar si laki-laki dan juga di sana wanita dikenal ulet/
rajin.
Di dalam organisasi masyarakat
primitive pun dimana belum mengenal tulisan, pelapisan social itu sudah ada.
Hal ini terwujud dengan berbagai bentuk, sebagai berikut :
1. Adanya
kelompok berdasarkan jenis kelamin dan umur dengan perbedaan-perbedaan hak dan
kewajiban
2. Adanya
kelompok-kelompok pemimpin suku yang berpengaruh dan memiliki hak-hak istimewa.
3. Adanya
pemimpin yang paling berpengaruh.
4. Adanya
orang-orang yang dikecilkan diluar kasta dan orang yang diluar perlindungan
hukum.
5. Adanya
pembagian kerja didalam suku itu sendiri.
6. Adanya
pembedaan standar ekonomi dan didalam ketidaksamaan ekonomi itu secara umum.
Jika kita tidak dapat
menemukan masyarakat yang tidak berlapis-lapis di antara masyarakat yang
primitive, maka tidak mungkin lagi menemukannya dalam masyarakat yang lebih
maju/ berkembang.bentuk dan proporsi pelapisan di masyarakat yang telah maju
berfariasi, tetapi pada dasarnya pelapisan masyarakat itu ada dimana-mana dan
disepanjang waktu.
B. Terjadinya Pelapisan Sosial
1. Terjadi
Dengan Sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan
pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Orang-orang yang menduduki lapisan ini
ibentuk bukan berdasarkan kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat
itu tapi berjalan dengan alamiah atau dengan sendirinya. Karena pelapisan
bentuk ini tidak disusun dengan sengaja maka bentuk pelapisan dan dasar
pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat di
mana system itu berlaku.
2. Terjadi
Dengan Di sengaja
System pelapisan yang dibentuk
dengan disengaja ini bermaksud agar mengejar tujuan bersama. Di dalam system
ini di tentukan secara tegas dan jelas adanya wewenang dan kekuasaan yang
di berikan kepada seseorang.sistem ini dapat dilihat dalam suatu organisasi
pemerintahan, organisasi partai politik, perusahaan besar, perkumpulan-perkumpulan
resmi, dan lain-lain.
Di dalam system organisasi yang di susun
dengan cara ini mengandung 2 sistem:
1)
System fungsional: pembagian kerja pada
kedudukan yang tingkatnya berdampingandan harus berkerjasama dalam kedudukan
yang sederajat, contoh: perkantoran dan kepala-kepala seksi.
2)
System scalar: pembagian kekuasaan
menurut jenjang dari bawah ke atas.
Pembagian kedudukan dalam organisasi
formal pada pokoknya di perlukan agar organisasi itu dapat bergerak secara
teratur untuk mencapai tujuan yang diinginkan, tetepi system ini terdapat pula
kelemahannya.
Secara teoritis, semua
manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi sesuai dengan kenyataan hidup
kelompok-kelompok social, halnya tidak demikian. Pedoman untuk meneliti
pokok-pokok terjadinya pelapisan dalam masyarakat :
1. System
lapisan mungkin berpokok pada system pertentengan dalam masyarakat. System
demikian hanya mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat tertentu yang manjadi
obyek penelitian.
2. System
lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur, antara lain:
a)
Distribusi hak-hak istimewa yang
objektif,
b)
System pertahapan yang di ciptakan oleh
para warga masyarakat(prestos dan penghargaan)
c)
Kriteria system pertentangan dapat
berdasarkan kualitas pribadi,keanggotaan kelompok kerabat
tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
d)
Lambang-lambang kedudukan
e)
Mudah sukarnya bertukar kedudukan
Solidaritas di antara
individu atau kelompok-kelompok social yang menduduki kedudukan yang sama dalam
system social masyarakat:
a.
Pola-pola interaksi
b.
Kesamaan atau ketidaksamaaan system
kepercayaan, sikap, dan nilai.
c.
Kesadaran dan kedudukan masing-masing
d.
Aktivitas sebagai organ kolektif
A. Kesamaan
Derajat
Kesamaan derajat dan
isi jaminan oleh undang-undang. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak
yang diberikan dalam berbagai sector kehidupan. Hak inilah yang yang banyak
dikenal dengan Hak Asasi Manusia.
Persamaan
hak
Adanya
kekuasaan Negara seolah-olah hak individu lambat-laun dirasakan sebagai suatu
yang mengganggu, Karen di mana kekuasaan itu berkembang, terpaksalah ia
memasuki lingkungan hak manusia pribadi dan berkuranglah pula luas batas
hak-hak yang dimiliki individu tu.
Mengenai persamaan hak
ini selanjutnya dicantumkan dalam pernyataan sedunia tentang hak-hak
(asasi)manusia atau universitas declaration of human right (1948) dalam
pasal-pasalnya, seperti dalam:
Pasal 1: “sekalian orang dilahirkan
merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan
budi dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan.”
Pasal 2 ayat 1 : “ setiap orang berhak
atas semua hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum dalam pernytaan ini
dengan tak ada kecuali apapun, seperti misalnya bangsa, warna, jenis kelamin,
bahasa, agama, politik, atau pendapat lain, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan,
milik, kelahiran ataupun kedudukan.”
A.
Elite Dan Massa
a.
Elite
Elite adalah suatu
minoritas pribadi-pribadinyang di angkat untuk melayani suatu kolektifitas
dengan cara yang bernilai social. Dalam pengertian umum elite itu menunjukkan
sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam cara
pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan: “ posisi didalam masyarakat di
puncak struktur-struktur social yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam
ekonomi, pemerintahan aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan
pekerjaan-pekerjaan dinas.”
Fungsi elite dalam memegang strategi:
Dalam suatu kehidupan
social yang teratur, baik dalam konteks luas maupun yang lebih sempit selalu
ada kecenderungan untuk menyisihkan satu golongan tersendiri sebagai satu
golongan yang penting, memiliki kekuasaan dan mendapatkan kedudukan yang
terkemuka jika di bandingkan dengan massa. Penentuan ini berdasarkan
penghargaan masyarakat terhadap peranan yang di lancarkan.
Ada 2 kecenderungan
yang digunakan untuk menentukan elite dalam masyarakat itu:
a. Menitikberatkan
pada fungsi social
b. Pertimbangan-pertimbangan
yang bersifat moral
Menurut parson, dua kecenderungan di
atas melahirkan 2 macam elite,yaitu:
1. Elite
internal : yang menyangkut integrasi moralserta solidaritas social yang
berhubungan dengan perasaan tertentu pada saat tertentu, sopan santun dan
keadaan jiwa.
2. Elite
eksternal : meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi, berhubungan dengan
problema-problema yang memperlihatkan sifat yang keras, masyarakat lain atau
mas depan tak tentu.
b.
Massa
Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan
kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai
crowd, tapi secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain.
Massa diwakili oleh
orang-orang yang berperan serta dalam perilaku missal sepertinya mereka yang
terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar
diberbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai
diberikan dalam pers.
Ciri – ciri massa adalah :
Keanggotaannya berasal dari semua
lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai
posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tignkat kemakmuran atau kebudayaan
yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai masa misalnya
orang-orang yang sedang mengikuti peradilan tentang pembunuhan misalnya malalui
pers
Massa merupakan kelompok yagn anonym,
atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonym Sedikit interaksi
atau bertukar pengalaman antar anggota-anggotanya
BAB
3
PENUTUP
Kesimpulan
Social atau
stratifikasi social menurut istilah dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti
LAPISAN. Dapat diartikan sejumlah individu yang mempunyai kedudukan / status
yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan dalam suatu lapisan atau
stratum.
Terjadinya pelapisan social melalui 2
macam:
a. Terjadi
dengan sendirinya
b. Proses
ini berjalan tanpa direncanakan.
c. Terjadinya
dengan disengaja
System ini dibuat secara sengaja dengan
maksud dapat memiliki tujuan bersama.delam system ini mengandung 2 sistem,
yaitu:
a. System
fungsional: pembagian kerja pada kedudukan yang tingkatnya berdampingandan
harus berkerjasama dalam kedudukan yang sederajat, contoh: perkantoran dan
kepala-kepala seksi.
b. System
scalar: pembagian kekuasaan menurut jenjang dari bawah ke atas.
Ukuran yang biasa dipakai dalam
menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan social, ialah:
a. Ukuran
kekayaan
b. Ukuran
kekuasaan
c. Ukuran
kehomatan
d. Ukuran
ilmu pengetahuan.
Dalam pengertian umum
elite menunjukkan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan
tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite adalah sekelompok orang terkemuka di
bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang
kekuasaan
Istilah massa
dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang
elementer dan spotnan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd, tetapi yang
secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
- Suzana keller, Penguasa dan Kelompok Elite, Rajawali, Jakarta, 1984
- Ahmadi, Drs.H.Abu. Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: PT Rineka Cipta,Mei 2003
- Robin Williams Jr., American Society, (New York: A Fred A Knopf) 1960
- Kingsley Davis, Human Society, (New York: The Macmillan Company) 1960
- Koentjaraningrat: Beberapa Pokok Antropologi Sosial, (Jakarta: Penerbit Dian Rakyat) 1967
- Soerjono Soekamto,Sosiologi Suatu Pengantar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
- Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi: Setangkai Bunga Sosiologi, (Jakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964)
- William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf, sociology, edisi ke-4, A.P. Feffer dan Simons Internasional University Edition, 19.
- http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab1-ilmu_sosial_dasar_sebagai_salah_satu_mata_kuliah_umum.pdf
- http://shindy1425.blogspot.com/http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/10/pengertian-ilmu-sosial-dasar-2/
- http://laluilmi.blogspot.com/2009/12/ilmu-sosial-dasar-sebagai-salah-satu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar